Rss

E-Book Pilihan

Menyingkap Mitos WahhabiMenyingkap Mitos WahhabiPenulis: Haneef J. Oliver.

Lihat eBook

Tata Cara Sujud SahwiTata Cara Sujud SahwiPenulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimi rahimahullah...

Lihat eBook

Sifat dan Karakteristik Ekstrimis KhawarijSifat dan Karakteristik Ekstrimis KhawarijPenulis: Syaikh Adil bin Ali al-Furaidan

Lihat eBook

Selamat Datang di Maktabah Raudhah al-Muhibbin.

Dipersilahkan untuk memakai dan menyebarluaskan materi Maktabah tanpa merubah isi serta tidak untuk tujuan komersil.

Semoga bermanfaat, barakallahu fikum

Kamis, Januari 15, 2009

Terputusnya Wahyu dari Langit

Bedah Buku: Terputusnya Wahyu dari Langit

Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
Format audio: MP3; 26.9 MB at 24 kbps
Durasi: 2:29:24

Judul Asli:1. Taisir Al-Wushul Ila Tafshil Wafatur Rasul, 2. Musibah Mautin Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam wa Atsaruha fil Hayatil Ummah
Penulis: 1. Syaikh Majdi Muhammad Asy-Syahawi; 2. Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah.
Halaman: 146; soft cover
Cetakan: Pertama, 2008
Penerbit: Pustaka At-Tibyan


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia! Siapa saja dari manusia atau kaum mukminin yang tertimpa musibah maka hendaklah dia menghibur diri dengan musibahku dari musibah selainku. Sesungguhnya salah seorang dari umatku tidak akan ditimpa suatu musibah yang lebih berat dari musibahku.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1300 dari Aisyah radhiallahu anha).

Musibah apa lagi yang lebih besar dari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Musibah apa yang lebih besar bagi manusia dibanding dengan terputusnya wahyu dari langit yang merupakan pertanda mulai munculnya fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gelap, yang terakhir mengikuti yang pertama, yang terakhir lebih buruk daripada yang pertama? Musibah apa yang lebih besar dari musibah yang dengannya kemudian terbuka pintu-pintu fitnah yang membawa kepada keburukan hingga akhir zaman?

Merenungkan bagian akhir kisah kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sungguh beliau tidak kembali kepada Rabb-Nya melainkan telah meninggalkan dua perkara yang malamnya bagaikan siang, dan barangsiapa yang berpegang kepada keduanya tidak akan sesat selamanya, yakni Al-Qur’an dan Sunnahnya. Betapa sering di akhir-akhir hidupnya beliau mewasiatkan untuk berpegang teguh terhadap ajaran yang ditinggalkannya. Lalu dimana posisi kita? Dimana kita pada hari ini, yang mengaku sangat mencintai Nabi yang mulia – shallallahu alaihi wasallam – namun pada saat yang bersamaan meninggalkan sebagian ajarannya, mengabaikan sunnahnya, bahkan tidak jarang sebagian yang lain mencemoohnya? Apakah bukti cinta itu dengan bentuk perayaan-perayaan atas nama beliau, bait-bait syair, nyanyian yang menjadi pilihan, sementara sunnah beliau yang merupakan jalan menuju keselamatan untuk bertemu dengannya di telaga Haud ditinggalkan?

Kajian Terputusnya Wahyu dari Langit ini menitikberatkan kepada masa-masa terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dengan penyampaian yang lugas dan menggungah, al-ustadz memberikan pengayaan materi dari isi buku tersebut, kejadian-kejadian sebelum wafat beliau sebagaimana yang sebagian dinukilkan dari kitab aslinya. Penjabaran mengenai wasiat beliau serta hikmah yang seharusnya diambil dari musibah besar wafatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Buku ini terbilang istimewa. Istimewa karena menyajikan sebuah pembahasan penting yang sarat makna dengan cara yang ringkas dan mudah dipahami. Pada bagian pertama buku ini membahas isyarat akan datangnya kematian Rasululullah, kejadian pada hari-hari menjelang wafat beliau, wasiat-wasiat beliau pada berbagai kesempatan di sela-sela masa sakitnya, serta reaksi para sahabat yang beraneka ragam atas kabar kematian beliau.

Pada bagian kedua, Syaikh Husain Al-Awayisyah lebih menekankan bagaimana seharusnya kita – umat sekarang ini – bersikap dan mengambil pelajaran dari musibah besar tersebut. Sungguh keliru jika ada yang mengatakan bahwa kematian beliau bukan sebuah musibah besar selama Al-Qur’an dan Sunnah berada di hadapan kita. “Bukankah Yahudi dan Nasrani membaca Taurat dan Injil, namun mereka tidak mengamalkan dari apa yang dikandungnya?”(Shahih Ibnu Majah no. 3272)

Terputusnya Wahyu dari Langit


Copyright © 2010 Maktabah Raudhah Al-Muhibbin | Theme: Maktabah Online by Khayla